Pakar UGM Bicara Soal Cuaca Ekstrem

cuaca eksterem di indonesia

Stasiun Meteorologi BMKG Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memprediksi tiga hari ke depan, Kamis-Sabtu, 27 – 29 April 2023, Kota Jogja dan lokasi lainnya di DIY berpotensi dilanda cuaca ekstrem. Selain diguyur hujan deras, cuaca ekstrem yang berpotensi berjalan berbentuk angin kencang cuaca eksrem hari ini dan petir. Penyebab cuaca ekstrem ini adalah Sirkulasi Siklonik di Samudera Hindia Barat Sumatra yang membentuk area pertemuan dan perlambatan kecepatan angin atau konvergensi yang terpantau memanjang melalui pulau Jawa.

Kata Para Pakar Di UGM

Lantas apa kata pakar soal cuaca ekstrem yang berjalan akhir-akhir ini? Menyitir dari BMKG, Dr. Emilya Nurjani., S.Si., M.Si., mengungkap cuaca ekstrem adalah kejadian fenomena alam yang tidak normal dan tidak umum dan ditandai oleh situasi curah hujan, arah dan kecepatan angin, suhu udara, kelembapan udara, dan jarak pandang yang sanggup membuat kerugian terlebih cuaca eksrem di indonesia sampai kapan keselamatan jiwa dan harta.

Salah satu perumpamaan cuaca ekstrem di indonesia 2023 adalah siklon yang mengundang angin kencang dan hujan lebat. Contoh di tahun 2012 adalah suhu udara yang tinggi sebesar 40 derajat Celcius di Larantuka Flores Timur.

Emilya menjelaskan tersedia banyak segi yang merubah munculnya cuaca ekstrem. Bergantung terhadap cuaca ekstrem sampai kapan layaknya apa yang dimaksud, kalau menyangkut penyebab hujan ekstrem atau hujan bersama dengan intensitas di atas 100 mm/jam maka hal itu disebabkan oleh sebab tingginya kelembapan. Adanya masalah atmosfer layaknya badai musim dingin, front hangat atau dingin, siklon tropis.

Pengaruh Cuaca Dunia

Kondisi udara hangat mempunyai kandungan lebih banyak kelembapan apapun kelembapan keliru satu segi yang sanggup membuat hujan lebat. Lingkungan yang hangat secara langsung sanggup berpotensi membentuk kejadian hujan ekstrem yang lebih sering,” ucapnya di Fakultas Geografi UGM, Kamis (27/4).

Tetapi kalau menyangkut soal suhu panas atau cuaca ekstrem jawa tengah panas, kata Emilya, sanggup menjadi disebabkan oleh menjadi memasuki musim panas/kemarau yang terbujuk oleh monsun dan juga posisi matahari yang disebabkan oleh gerak semu matahari (ekuinoks), atau ada gelombang panas yang ditandai ada pusat tekanan tinggi yang terhambat era udara di anggota lebih rendah.

Emilya menjelaskan cuaca dan iklim international terbujuk oleh atmosfer, hidrosfer, biosfer dan geosfer. Terjadinya perubahan yang tersedia di muka bumi ataupun yang jauh dari bumi bakal merubah sistem iklim.

Iklim Yang Mulai Bergeser

Sebagai perumpamaan segi dari luar bumi yaitu jarak bumi dan matahari. Jarak bumi dan matahari yang jauh atau dekat bakal merubah iklim di bumi, bentuk lintasan bumi terhadap matahari (membulat atau elips) termasuk bakal merubah iklim di Bumi.

“Penemuan mesin uap tahun 1750 mendorong pemanfaatan bahan bakar fosil yang tingkatkan gas tempat tinggal kaca dan suhu permukaan bumi. Jika kami berdiri di area perkotaan yang padat permukiman atau di area hutan kota maka bakal terlampau merasakan suhu udara yang berbeda, bermakna perbedaan penutup lahan atau pemanfaatan lahan bakal mengundang dampak yang tidak serupa terhadap suhu yang dirasakan oleh manusia,” ungkapnya.

Baca Juga : Cuaca Ekstrem Paling Besar Sepanjang Sejarah Dunia

Emilya menandaskan ulang perubahan klim yang dialami saat ini diakui atau tidak sebab keliru satunya disebabkan oleh perubahan tutupan lahan atau alam berkurangnya lahan terbuka. Diakuinya pula sudah banyak solusi yang ditawarkan pemerintah baik berbentuk regulasi ataupun aksi nyata di masyarakat.

Antisipasi Perubahan Cuaca Ekstream

Meski begitu, hal itu masih perlu perlindungan semua masyarakat. Tidak cuma penduduk Indonesia namun termasuk penduduk dunia terlebih menyangkut soal untuk mitigasi atau antisipasi dampak yang mungkin terjadi. Beberapa yang sanggup dikerjakan adalah lakukan pengurangan pemanfaatan bahan bakar dari fosil. Termasuk bahan bakar fosil untuk sektor transportasi, kekuatan maupun industri.

“Sistem pertanian pun diinginkan yang ramah lingkungan yaitu rendah emosi karbon, minim pemanfaatan air, dan senantiasa membiasakan menanam sebab itu berikan pengaruh,”ucapnya.

Emilya berpandangan mengantisipasi cuaca ekstrem sebenarnya harus dilakukan. Karena selain berdampak terhadap sektor ekonomi, cuaca ekstrem ini termasuk mengundang rusaknya lain bangunan, sarana prasarana, ataupun kendaraan.

“Padahal kalau sanggup mengantisipasi dan mengatasi terlebih kalau tidak tersedia rusaknya maka dana yang tersedia sanggup dialokasikan untuk sektor atau pembangunan yang lain,” imbuhnya.

Pengaruhnya

Andung menilai perubahan iklim bisa berpotensi menjadi katalis perubahan cuaca ekstrem yang berjalan didalam jangka pendek, tapi seringkali terhalang keterbatasan data untuk dianalisis. Namun, di tingkat masyarakat, persepsi perihal dengan pengaruh perubahan iklim ini bisa berbeda-beda sebab aspek usia, wilayah area tinggal dan tingkat pendidikan sehingga perlu adanya konfirmasi persepsi dengan data. “Kita butuh data lebih detil seberapa besar pengaruh dari perubahan iklim ini,” jelasnya.