Gelombang Panas Melanda Indonesia,BMKG Bantah Indonesia Tidak Terdampak

gelombang panas indonesia

Setelah jalankan penelusuran, hal selanjutnya tidak benar. Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), yaitu Urip Haryoko mengatakan bahwa suatu lokasi yang mengalami gelombang panas adalah lokasi yang terdapat terhadap lintang menengah dan tinggi. Sedangkan Indonesia berada terhadap lokasi ekuator yang secara proses dinamika cuaca tidak sangat mungkin terjadinya gelombang panas.

Baca Juga : Gelombang Panas Asia Masih Berlangsung,Masyarakat Agar Tidak Panik Dan Tetap Waspada

Di samping itu, suatu lokasi bisa dikatakan mengalami gelombang panas jika negara selanjutnya mengalami kenaikan suhu yang tidak biasa berasal dari suhu biasanya dan berjalan setidaknya selama lima hari berturut-turut. Suhu panas yang berjalan di Indonesia sebab fenomena gerak semu matahari yang merupakan siklus tahunan. Hal ini memicu beberapa tempat di Indonesia layaknya Medan, Deli Serdang, Jatiwangi dan Semarang mengalami kenaikan suhu menjadi 37 derajat celsius.

Secara karakteristik fenomena suhu panas yang terjadi di wilayah Indonesia merupakan fenomena akibat dari adanya gerak semu matahari yang merupakan siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun.Sehingga potensi suhu udara panas seperti ini dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya.

Lanjutnya, prospek cuaca seminggu kedepan di Provinsi Jambi (periode 25 April hingga 1 Mei 2023), pada skala global, indeks-indeks global tidak menunjukkan nilai yang signifikan untuk memengaruhi curah hujan di wilayah Indonesia.

“MJO aktif menunjukkan kondisi yang tidak signifikan terutama untuk Indonesia Indeks Surge diprakirakan menurun dan kurang signifikan dalam sepekan kedepan,” katanya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun Jambi mencatat bahwa dalam dua minggu terakhir, suhu panas di wilayah tersebut mencapai 33 derajat Celsius.

Kepala BMKG Jambi, Ibnu Sulistyono, mengatakan bahwa perkembangan gelombang panas telah terjadi sejak satu minggu lalu di sebagian besar negara di Asia Selatan.Indonesia tidak mengalami gelombang panas, tetapi suhu maksimum udara permukaan juga tergolong panas,tulis BMKG.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan suhu udara panas dipengaruhi faktor klimatologis dan diamplifikasi dinamika atmosfer skala regional dan skala meso.

Pelaksana tugas Deputi Klimatologi BMKG, Urip Haryoko dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa, menjelaskan analisis pengukuran suhu permukaan dari 92 Stasiun BMKG dalam 40 tahun terakhir menunjukkan peningkatan suhu permukaan dengan laju yang bervariasi.

Secara umum tren kenaikan suhu permukaan lebih nyata terjadi di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah. Pulau Sumatera bagian timur, Pulau Jawa bagian utara, Kalimantan dan Sulawesi bagian utara mengalami tren kenaikan lebih dari 0.3? per dekade.

Laju peningkatan suhu permukaan tertinggi diketahui terjadi di Stasiun Meteorologi Temindung, Kalimantan Timur (0.95? per dekade), sedangkan laju terendah terdapat di Stasiun Meteorologi Sultan Muhammad Salahuddin, Bima (0.01? per dekade).

Suhu udara permukaan di wilayah Jakarta dan sekitarnya meningkat dengan laju 0.40 – 0.47? per dekade.

Namun, tren kejadian suhu panas dapat dikaji dalam series data yang panjang, apakah terjadi perubahan polanya, baik magnitudo panasnya maupun keseringan kejadiannya.

BMKG meyakinkan bahwa kondisi ini bukan termasuk kondisi ekstrem yang membahayakan seperti gelombang panas heatwave, meskipun masyarakat tetap diimbau untuk menghindari kondisi dehidrasi dan tetap menjaga kesehatan