Gelombang Panas Landa AS Hingga China

gelombang panas

Panas ‘mendidih’ menerjang Eropa, China, hingga AS belakangan ini. Apa pemicunya dan mungkinkah bisa melanda RI?

Papan peringatan di tempat terpanas di Bumi, Death Valley California, AS. Apa sebab gelombang panas belakangan ini?

Panas ekstrem melanda belahan Bumi utara, seperti China, AS, hingga Eropa, dalam beberapa hari terakhir. Simak sebabnya dan potensinya masuk ke Indonesia.

Pada Minggu (16/7), China mencatatkan rekor suhu terpanas, yakni 52,2 derajat Celsius, di Kota Sanbao. Angka ini memecahkan https://htarcheryonline.com/ rekor China pada 2015 wilayah Ayding Lake, danau kering berkedalaman 150 meter di bawah permukaan laut, dengan suhu 50,3 derajat Celsius.

Suhu 44 derajat Celsius pun merata di kota China lainnya, seperti Lingshou, Gaocheng, Zhengding, dan Yanjin.

Senada, tempat terpanas di Bumi, Death Valley, California, AS, pada hari yang sama mencatat rekor panas 53,33 derajat Celcius.

Italia pun sempat diperkirakan mencapai 45 derajat C pada Selasa, dan di akhir pekan ini berpotensi mendekati rekor suhu terpanas di Eropa: 48,8 derajat C.

Badan cuaca Spanyol, Aemet, mengatakan gelombang panas pekan ini “akan memengaruhi sebagian besar negara yang berbatasan dengan Mediterania”, dengan suhu di beberapa wilayah selatan Spanyol melebihi 42 derajat C.

Apa pemicu heatwave global ini?

Andrew King, pengajar senior dalam bidang Climate Science di University of Melbourne, mengungkap fenomena gelombang panas di belahan Bumi utara kali ini tak terkait dengan El Nino.

“Cuaca ekstrem di Belahan Bumi Utara tidak terkait erat dengan perkembangan El Nino,” ucapnya, dikutip dari The Conversation.

Sejauh ini, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), El Nino masih belum signifikan. Indeks Nino 3.4 menunjukkan angka +0,98 yang berarti “El Nino Moderat.”

Jadi apa yang menyebabkan gelombang panas serentak ini di banyak wilayah ini?

King menyebut itu “terkait dengan sistem cuaca bertekanan tinggi yang ‘memblokir’ atau membelokkan sistem bertekanan rendah yang akan datang (dan awan serta hujan yang terkait).”

Sistem bertekanan rendah ini, kata dia, kemudian pindah ke daerah lain dan menyebabkan curah hujan yang ekstrem dan banjir.

Baca Juga : Potensi Cuaca Ekstrim Masih Berlanjut, Masyarakat Dihimbau Tingkatkan Kewaspadaan Bencana

Salah satu efeknya adalah banjir parah di Korea Selatan yang menyebabkan 40 orang tewas dan menghancurkan infrastruktur penting. Selain itu, ada banjir di Vermont, di timur laut Amerika Serikat, buntut hujan dalam beberapa hari.

Sementara, Juru bicara Aemet Rubén del Campo, dikutip dari The Guardian, mengatakan gelombang panas ini disebabkan oleh ‘antisiklon’ yang mendorong massa udara panas dari Afrika menuju Spanyol dan negara-negara Mediterania lainnya.

Lembaga tersebut juga memperkirakan panas dan udara kering memicu risiko kebakaran hutan.

King juga menuding peran perubahan iklim yang membuat fenomena gelombang panas ini makin sering terjadi.

“Yang mengkhawatirkan, pola atmosfer yang mendorong ekstrem di Belahan Bumi Utara tampaknya semakin umum di bawah perubahan iklim.”

“Selain itu, pemanasan global yang disebabkan oleh manusia sangat meningkatkan kemungkinan terjadinya peristiwa panas ekstrem yang memecahkan rekor dan gelombang panas yang terjadi bersamaan di banyak wilayah,” sambungnya.

Khatulistiwa dan belahan Bumi selatan

Andrew King mengungkap sejauh ini gelombang panas tersebut belum akan berpindah ke belahan Bumi selatan.

“Ada satu faktor yang menguntungkan kita: pola atmosfer tertentu yang membawa [panas] ekstrem ke belahan Bumi utara tidak direplikasi di belahan Bumi selatan, karena kita memiliki lebih banyak lautan dan lebih sedikit daratan,” jelasnya.

Senada, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan negara kepulauan seperti Indonesia tidak terdampak dan belum pernah dilanda gelombang panas karena memiliki lautan yang luas, lebih luas daripada daratannya.

Sementara, negara-negara yang mengeluarkan peringatan dini gelombang panas adalah yang terletak di benua dengan daratan yang luas dan lautan yang lebih sempit atau tidak memiliki laut sama sekali.

“Di situ potensi terbentuknya gelombang panas ini tinggi, tapi kalau di Indonesia kita banyak lautnya. Laut itu berperan sebagai radiator pendingin, jadi kalau ada kenaikan suhu ada cooler-nya, lautan itu,” ujar Dwikorita, dikutip dari Antara.

Menurut pengamatannya, hingga saat ini data belum menunjukkan indikasi Indonesia akan mengalami atau terdampak dari gelombang panas.

“Jadi aliran udara di negara-negara benua, menjadi tidak bisa selancar kalau ada di wilayah Indonesia, karena ada perbedaan laut dan daratan ada perbedaan tekanan, lalu sirkulasi udara atau angin,” urai dia.

“Kalau ada sirkulasi, suhu yang tinggi itu akan bisa secara gradual akan turun,” lanjutnya.