Area Terbuka Hijau Di Jakarta,Sarana Hiburan Warga Jakarta

ruang terbuka hijau jakarta

Taktik Mencapai 30 Persen area Terbuka Hijau di Jakarta

Cakupan area terbuka hijau di Jakarta jauh panggang dari api. Masih kurang lebih 5 persen dari 30 persen yang diwajibkan undang-undang. Ragam langkah wajib ditempuh selama tersedia keinginan dan komitmen.

Luas area terbuka hijau di Jakarta mencakup 5,18 persen dari luas lokasi secara keseluruhan. Jumlah itu tetap jauh dari amanat undang-undang sebesar 30 persen. Untuk memenuhinya dibutuhkan keinginan pemerintah dan swasta mobilisasi kewajibannya. Jangan terulang kembali area terbuka hijau bersalin jadi kompleks bangunan beton.

Undang-Undang Nomor 26 th. 2007 tentang Penataan area menyebutkan area terbuka hijau sebagai tempat memanjang atau jalan dan mengelompok yang penggunaannya lebih berupa terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik tumbuh secara alami maupun ditanam.

Dalam laman Info jakartasatu.jakarta.go.id, area terbuka hijau (RTH) DKI Jakarta sebesar 33,33 juta mtr. persegi atau 33,33 kilometer persegi. Jumlah itu mencakup 5,18 persen dari luas Jakarta yang menggapai 664,01 kilometer persegi.

Cakupan yang tersedia tersebar di Jakarta Timur sebanyak 26,2 persen, Jakarta Selatan 24,92 persen, Jakarta Utara 20,87 persen, Jakarta Pusat 12,69 persen, Jakarta Barat 8,64 persen, dan null (belum diketahui) 6,61 persen.

Berdasarkan kuantitas obyek, tersedia 2.307 RTH, 1.710 jalan hijau, 1.335 taman lingkungan, 140 belum diketahui, 133 taman interaktif, 123 hutan kota, 114 pemakaman, 77 taman kota, 18 lapangan olahraga, 17 kebun bibit, dan 10 taman rekreasi.

Cakupan 5,18 persen RTH yang tersedia kala ini tetap jauh dari ketetapan UU 26/2007. Beleid berikut menyesuaikan jatah area terbuka hijau pada lokasi kota paling sedikit 30 persen dari luas wilayahnya dan jatah RTH publik paling sedikit 20 persen.

RTH adalah fasilitas multifungsi di perkotaan. Tutupan hijaunya menyerap polusi, produsen oksigen, terhitung tempat tangkapan air yang turut menangani ancaman banjir. RTH terhitung area publik untuk warga dari beragam latar belakang berkumpul gratis supaya meredakan ketegangan sosial.

Penataan kawasan

Masih jauhnya ketersediaan RTH dari tuntutan ketentuan menyebabkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sejak lebih dari satu th. paling akhir tetap berusaha meningkatkan area hijau baru. Tiga bulan terakhir, misalnya, Penjabat Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono dan jajarannya giat menata kawasan, khususnya lahan tak terawat atau terbengkalai. Penataan berikut jadi keliru satu usaha pemenuhan area terbuka hijau.

”Dalam kurun tiga bulan udah menata 238 lokasi taman. Akan tetap menanam pohon dan penghijauan di lokasi-lokasi yang sesungguhnya punya pemerintah,” tutur Heru seusai penanaman pohon di lokasi pembangunan Taman Sensori, Kelurahan Kamal, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, Selasa (28/2/2023).

Taman Sensori seluas 9.900 mtr. persegi dibangun dekat permukiman warga supaya jadi area interaksi, olahraga, dan rekreasi. Pengerjaan ditargetkan terjadi selama empat bulan.

Penataan kawasan terhitung terjadi di pergudangan Pluit, tepatnya segi Tol Bandara Soekarno-Hatta, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Ratusan pohon dan tanaman hias ditanam di sana untuk menghadirkan lebih banyak RTH.

Heru menuturkan, penataan kawasan dan penanaman pohon pada tempat segi tol selama 1,5 kilometer tunjukkan keterbatasan lahan bukan halangan untuk penghijauan di Jakarta. Upaya berikut wajib konsisten ke seluruh Jakarta.

Selain itu, pemerintah tempat terhitung menggandeng pihak swasta dalam penataan lahan kosong. Salah satunya di selama saluran Kalimalang, kolong Tol Becakayu, Jakarta Timur.

Kerja mirip berhubungan dengan PT Kresna Kusuma Dyandra Marga dan Perusahaan Umum Jasa Tirta II untuk penataan dalam jangka kala lima tahun. Penataan mencakup pembersihan dan penghijauan di selama kolong tol, pemeliharaan, dan pemantauan atau evaluasi.

Pola konsolidasi lahan sesungguhnya sulit dan memerlukan waktu, tapi ini wajib dilakukan. Yang perlu masyarakat setempat wajib dapat ditampung di tempat asalnya. Tidak tergusur atau terpinggirkan. Tidak terjadi gentrifikasi.

Danang Priatmodjo, anggota Dewan Penasihat Ikatan Ahli Rancang Kota Indonesia, mengingatkan supaya jangan terulang kembali RTH hilang atau berganti jadi kompleks bangunan, layaknya taman di Jalan Wijaya, Kebayoran Baru, taman di Pluit dan Senayan jadi kawasan komersial, dan taman lingkungan jadi SPBU.

”Untuk situasi Jakarta, senang tidak senang pemerintah wajib belanja lahan dan bangunan, lalu merobohkan bangunannya dan diubah jadi taman. Ini wajib dijalankan di beragam lokasi yang minim area terbuka hijau,” ucap Danang, Senin (27/2/2023).

Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) selesaikan mural di tiang penyangga Jalan Tol Becakayu, Cipinang Melayu, Jakarta Timur, Rabu (1/2/2023).
FAKHRI FADLURROHMAN
Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) selesaikan mural di tiang penyangga Jalan Tol Becakayu, Cipinang Melayu, Jakarta Timur, Rabu (1/2/2023).

Danang meyakini, usaha berikut dapat terjadi karena cukupnya APBD DKI Jakarta. Apalagi, hal mirip terjadi di Kota Madinah, Arab Saudi, tatkala pemerintahnya belanja hotel di kurang lebih Masjid Nabawi, lalu dirobohkan dan lahannya dipakai untuk perluasan makam Baqi.

Ia terhitung menyarankan konsolidasi lahan lantaran banyak bangunan rendah (rumah), kebanyakan hanya dua lantai di tengah kota. Bangunan ini tidak efektif untuk tanah yang mahal dan kian langka. Diperlukan pengembangan hunian vertikal atau membuat perubahan bangunan rendah jadi bangunan tengah (18-12 lantai) atau tinggi (sekitar 20 lantai) supaya tersedia peluang untuk mengambil porsi lahan yang dapat dialokasikan sebagai RTH.

”Pola konsolidasi lahan sesungguhnya sulit dan memerlukan waktu, tapi ini wajib dilakukan. Yang perlu masyarakat setempat wajib dapat ditampung di tempat asalnya. Tidak tergusur atau terpinggirkan. Tidak terjadi gentrifikasi,” kata Danang.

Kemauan

Jumlah masyarakat DKI Jakarta th. 2021, berdasarkan hasil proyeksi masyarakat interim 2020-2023, sebanyak 10,60 juta jiwa dengan laju perkembangan masyarakat per th. sebesar 0,57 persen. Dibandingkan luas wilayah, kepadatan masyarakat th. 2021 menggapai 15.978 jiwa per 1 kilometer persegi.

Warga menghendaki kehadiran RTH di wilayahnya atau paling tidak terjangkau aksesnya. Misalnya, Taman Maju Bersama Sutoyo Cerah di Kelurahan Cililitan, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.

Baca Juga : Taman Hiburan Keluarga

Taman yang belum diakses untuk umum ini berjarak lima menit dengan terjadi kaki dari Halte Transjakarta BKN. Pada anggota tengahnya terdapat labirin yang dikelilingi bunga sebagai daya tarik.

Taman seluas 3.397 mtr. persegi itu berada di antara permukiman warga. Selain labirin, terdapat pula tempat bermain anak, lintasan, gedung serbaguna, dan parkir spesifik sepeda.

”Kami butuh taman layaknya ini. Anak-anak dapat bermain dengan leluasa. Lingkungan terhitung lebih lega karena dulu jadi tempat parkir truk dengan tembok tinggi,” ujar Imanuel (55), warga Cililitan, Sabtu (25/2/2023).

Warga Duri Kepa terhitung punyai harapan mirip dengan kehadiran Taman Maju Bersama Nirmala Mas, Kelurahan Duri Kepa, Jakarta Barat. Taman yang belum diakses untuk umum itu punyai lapangan, tempat bermain anak, lintasan lari, tempat menanam tanaman obat keluarga dan warung hidup.

”Kami demen tempat begini (taman). Dekat rumah, udah nggak sabar dapat main di sini,” ucap Badai (60), warga Duri Kepa, Minggu (26/2/2023).

Justin Adrian Untayana, anggota Fraksi Partai Solidaritas Indonesia DPRD DKI Jakarta, menyarankan pemerintah untuk menggunakan aset tanah secara optimal, terhitung untuk area terbuka hijau. Merujuk Laporan Hasil Pemeriksaan BPK th. 2021, valuasi tanah pemerintah menggapai Rp 372 triliun. Akan tetapi, tanah itu belum dimanfaatkan secara maksimal dan tersedia tanah yang dikuasai pihak ketiga ataupun belum disertifikasi.

”Target area terbuka hijau 30,92 persen dapat menggunakan lahan tidur, paling tidak dapat dijalankan dengan efektif tanpa ongkos pembebasan tanah baru,” kata Justin, Selasa (28/2/2023).

Lahan tidur yang dimaksud Justin, antara lain, kompleks rumah dinas yang udah tidak terpakai ataupun rusak, areal hijau, fasilitas sosal, dan fasilitas umum. Ia menghendaki lahan tidur sesempit apa pun dapat dinikmati oleh seluruh warga yang memerlukan area terbuka hijau lantaran tingkat kepadatan Jakarta oleh permukiman yang tidak beraturan.

”Jangan sampai lahan terbengkalai justru dimanfaatkan segelintir orang. Lebih baik untuk keperluan bersama,” ujar Justin.